Entri yang Diunggulkan

صفحات من حياة فضيلة الشيخ سليمان بن ناصر العلوان

إعداد : أبي محمد يوسف الصالح بسم الله الرحمن الرحيم   المقدمة إنّ الله سبحانه وتعالى جعل لهذه الأمة...

Awas Penyadapan

http://menempuhperjalanan.blogspot.co.id/2016/06/awas-penyadapan.html

صفحات من حياة فضيلة الشيخ سليمان بن ناصر العلوان

http://menempuhperjalanan.blogspot.co.id/2016/06/blog-post_15.html

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Nashihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nashihat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

SEANDAINYA MEREKA JUJUR, TAPI MEREKA MEMANG PENDUSTA.


Oleh: Abu Usamah JR

“Sesungguhnya orang -orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman ) kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang -orang yang benar “. (QS Alhujurat:15).

Allah ‘azza wa jalla dalam ayat diatas menerangkan tentang ciri dan sifat orang-orang yang jujur dalam keimanannya. Ayat ini menjadi parameter untuk mengintrospeksi diri kita yang mengklaim sebagai orang yang beriman. Sebab apalah artinya kita mengaku paling beriman namun pengakuan tersebut tidak dianggap oleh Allah karena menyelisihi apa yang dituntut oleh Allah?

Orang beriman memiliki ciri diantaranya beriman kepada Allah tanpa keraguan. Artinya membenarkan, menerima, tunduk dan patuh yang dibuktikan dengan pengamalan terhadap segala ketentuan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah Rabbul ‘izzati. Maka seorang mukmin hanya ridho didominasi, diperbudak dan diatur oleh Allah saja. Tidak ada tempat bagi seorang mukmin ketundukan, kepatuhan dan kepasrahan kepada selain Allah. Sehingga idiologi, hukum, aturan dan segala macam teori yang bukan bersumber dari Allah adalah sampah yang harus dibuang.

Ciri lain dari seorang mukmin adalah tidak ragu dengan keimanan kepada Rasul utusan Allah. Artinya membenarkan setiap apa yang datang dari Rasul baik itu perintah, larangan, hukum dan kabar yang shahih. Seorang mukmin hanya akan menempuh jalan yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Seluruh hukum, teori, idiologi dan pemikiran yang bertentangan dengan kabar dari Rasulullah akan ditolak dan diingkari oleh seorang mukmin. Seorang mukmin akan mencukupkan diri dan ridho dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah. Teori dan idiologi semacam demokrasi, sosialis, komunis dan pancasila adalah barang haram untuk merasuk dalam hati dan pikiran seorang mukmin.

Jihad adalah sifat selanjutnya yang melekat pada diri seorang mukmin. Ia merupakan angan-angan, cita-cita dan jalan perjuangan seorang mukmin. Sebab jihad adalah identitas, eksistensi, kemuliaan dan puncak amal seorang mukmin. Jihad yang dimaksud adalah berperang untuk tingginya kalimat Allah dan setiap usaha yang mendukung kearah tersebut. Keberadaan jihad tidak bisa dipisahkan dari keberadaan seorang mukmin pada setiap zaman dan tempat. Dan keimanan kepada Allah dan RasulNya hanya bisa terwujud dengan sempurna jika jihad dilaksanakan. Sebab keimanan yang sempurna tersebut hanya akan terwujud jika seorang mukmin hidup di dalam daulah islam yang menegakkan syariat islam. Dan daulah islam tidak akan terwujud kecuali dengan jihad fie sabilillah.

Dari penjelasan singkat diatas kita bisa memilah dan menilai kebenaran ataukah kedustaan dari orang maupun kelompok yang mengaku berjuang untuk kejayaan islam dan kaum muslimin. Jika saja Ikhwanul Muslimin (IM) mesir jujur dalam keimanan kepada Allah dan RasulNya tentu mereka tidak akan masuk dalam parlemen syirik demokrasi dengan dalih memperjuangkan islam. Dan tentu IM tidak akan mencetak atau melahirkan thoghut bernama Mursi. Dan ketoghutan serta kekafiran Mursi tidaklah berbeda dengan ketoghutan dan kekafiran penguasa kafir lainnnya meskipun Mursi hafal alqur’an.

Jika saja IM jujur dalam keimanan tentu bukan parlemen syirik tempat perjuangan mereka, namun medan -medan jihadlah yang mereka ramaikan. Dan jika mereka jujur tentu pasti mereka tidak akan peduli pada kotak suara dalam perjuangan dan memilih kotak amunisi untuk perjuangan. Tapi karena mereka pendusta maka mereka mengkhianati Allah dan RasulNya dengan meninggalkan islam dan memilih demokrasi sebagai manhaj mereka. Sungguh mereka adalah pendusta sehingga meninggalkan jalan kemuliaan berupa jihad dan memilih jalan kehinaan berupa demonstrasi, kampanye dan pemungutan suara. Dan wallahi! mereka benar-benar pendusta sehingga mereka dibantai dengan keji oleh orang-orang kafir tanpa perlawanan. Sungguh mereka benar-benar pendusta lagi pengecut sehingga enggan menempuh jalan para kesatria berupa jihad dan lebih memilih jalannya orang-orang kafir yang hina.

Selanjutnya, perjuangan tidaklah disebut jihad kecuali atas dasar tauhid dan dengan tujuan tauhid. Artinya perjuangan disebut jihad jika dilandasi oleh tauhid yang bersih dan dengan tujuan untuk tingginya kalimat tauhid. Perjuangan tidak disebut jihad hanya dikarenakan adanya teriakan takbir dan adanya simbol bendera bertuliskan kalimat tauhid. Dan perjuangan juga tidak disebut jihad hanya karena dipimpin oleh seorang komandan bergelar Syaikh dan didukung oleh kibarul ulama dari alul salul saudi.

Maka sungguh FSA (Free Syirian Army) bukanlah mujahid sebab mereka berjuang bukan atas dasar tauhid tapi atas dasar nasionalisme. FSA tidak berubah menjadi kelompok mujahidin hanya karena mereka memerangi syiah nushairi. Dan ia tidak menjadi kelompok mujahidin hanya karena label yang diberikan oleh ulama dari alul salul saudi.
Wallahi! Mereka adalah para pendusta yang mengklaim sebagai mujahidin, bahkan sungguh tidak ada bagian sedikitpun dari islam pada diri mereka. Bagaimana ada iman jika mereka lebih memilih idiologi buatan manusia daripada petunjuk Allah dan RasulNya?.

Dan tidaklah perjuangan disebut jihad meskipun dilakukan oleh orang yang mengklaim sebagai muslim jika tidak untuk tujuan tingginya kalimat Allah.

Sungguh jika memang Jabhah Nushrah dan Ahrar Syam berjihad untuk tingginya kalimat Allah pasti hari ini syariat islam telah tegak di kota Idlib setelah enam bulan dibebaskan dari rezim nushairi. Dan sungguh jika Zahran Allaousy adalah orang jujur tentu tidak mengatakan bahwa, ”masa depan syuriah diserahkan kepada rakyat syuriah dan yang pasti bukan syariat islam“. Dan jika Jaulany si pengkhianat adalah orang yang jujur tentu dia tidak akan bersekutu dengan Zahran Allaousy yang telah dikafirkan oleh syaikh panutannya Al maqdisy. Dan jika Al maqdisy jujur tentu ia akan mengkafirkan Jaulany yang bersekutu dengan Zahran Allaousy yang telah dia kafirkan.

Dan sungguh, baik Jabhah Nushrah maupun Ahrar Syam adalah pendusta dan bukan mujahidin meskipun mereka dipimpin oleh seorang Syaikh. Dan sungguh ia tidak menjadi mujahidin dikarenakan ia memerangi syiah nushairi dan menghancurkan kuburan keramat. Dan sungguh ia tidak menjadi mujahidin hanya karena memiliki dewan syuro dan mufti. Dan sungguh ia tidak menjadi mujahidin karena label yang diberikan oleh Al maqdisy, almuhaisin, maupun dzowahiri. Sebab jihad adalah perjuangan untuk tingginya kalimat Allah dengan wujud berlakunya hukum syariat islam dalam wadah daulah islam. Dan cukuplah dikuasainya Idlib membuktikan bahwa klaim jihad dari Jabhah Nushrah dan Ahrar Syam adalah dusta. Ya, jika mereka jujur tentu syariat islam telah tegak di kota Idlib, tapi sekali lagi mereka memang pendusta.

Isu tegaknya khilafah islam selama berpuluh-puluh tahun didengungkan oleh mereka yang mengklaim sebagai pejuang islam. Namun kini setelah hampir seratus tahun berlalu, atas karunia Allah khilafah islam telah kembali tegak di syam dan iraq. Namun kemana orang-orang yang kemarin mengaku berjuang untuk kembalinya khilafah islam?. Dimana posisi Hizbut Tahrir, Jama’ah Islamiyah, alqaedah, salafi, ikhwanul muslimin dan yang lainnnya ketika hari ini khilafah islam telah kembali?. Kenapa hari ini mereka memilih posisi memusuhi khilafah islam?. Kemana cita-cita mereka yang dulu ingin menegakkan khilafah islam?. Kenapa tegaknya khilafah islam menjadi kedukaan bagi mereka dan bukan menjadi kebahagiaan bagi mereka?. Wallaahi! Mereka telah berdusta atas klaim mereka ingin menegakkan khilafah islam!.

Sungguh qur’an surat Alhujurat ayat 15 memiliki makna jelas dan gamblang untuk menggambarkan jujur dan dustanya klaim keimanan seorang hamba. Dan dengan ayat ini kini kita bisa menilai mana kelompok pendusta yang mengklaim sebagai mujahid dan mana orang-orang jujur yang berjihad untuk tingginya kalimat Allah. Bahkan kita bisa membedakan mana murtadun yang mengaku muslim dan mana muslim sesungguhnya?. Dan sungguh kebenaran itu sangat terang terlihat seperti terangnya matahari di siang bolong, tidak ada orang yang tidak bisa melihatnya kecuali orang buta. Dan wallahi! Kini khilafah telah tegak diatas manhaj kenabian. Maka sungguh orang yang tidak bisa melihatnya ia diatas kebenaran melainkan orang yang buta mata hatinya.

Dan tidaklah fitnahan, hujatan dan semua gonggongan para pendengki daulah islam melainkan ia seperti kotoran yang dilemparkan dibawah sebuah pohon. Maka yang terjadi adalah pohon tersebut semakin subur dan kuat. Dan alhamdulillah, fitnahan, hujatan dan semua gonggongan para pendengki justru semakin membuat daulah islam dan para anshornya semakin teguh. Sebaliknya para pendengki dan musuh-musuh daulah islam kian hari makin terpuruk dan makin nampak kepandirannya.

Yang terakhir, jika memang para pendengki daulah islam adalah orang-orang jujur yang memiliki dalil tentu mereka memiliki nyali untuk mendatangi para ustadz anshoru daulah islam untuk berdialog. Tapi hingga hari ini tidak ada satupun dari mereka yang berani berdialog secara langsung dengan para ustadz anshoru daulah islam semisal ustadz Abu Bakar Basyir, ustadz Aman Abdurrahman ataupun ustadz Abu Hathaf, dll. Tapi mereka memang pendusta lagi banci yang miskin dalil yang hanya berani menggonggong dihadapan kelompoknya saja.

Dan jika memang para pendengki daulah islam di negeri ini yakin di atas kebenaran tentu mereka akan memiliki nyali dan tidak mengelak ketika diajak mubahalah oleh syaikhuna Abu Bakar Basyir fakallahu asrah. Tapi mereka memang pendusta yang rusak manhajnya dan ragu-ragu terhadap apa yang mereka yakini. Namun mereka tetap memilih dalam kerusakannya karena gengsi dan kesombongannya. Maka tidaklah para pendengki menggonggong dan berulah kecuali semakin menampakkan kedustaan dan kerusakan manhajnya. Maka ketahuilah wahai para pendengki dan syahawat pendusta, semua fitnah, hujatan bahkan syubhat yang kalian lontarkan tidak akan sampai meskipun hanya ke tali sepatu mujahidin daulah islam. Allahu musta’an. (/ss)


Abu Usamah JR

Risalah Untuk Sony (Maaher)



Bismillah.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga serta para shahabatnya dan umatnya sampai hari kiamat, wa ba’ad:
Risalah ini saya tunjukan buat Sony yang merupakan pemimpin FORUM SERUAN AL-HAQ, dalam rangka mengamalkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

و تواصوا بالحق

Dan saling menasehati dalam kebenaran (al-‘Ashr: 3).

Na’am, tujuan saya menulis ini dalam rangka saling menasehati dalam kebenaran dan dalam rangka membela kebenaran, dan saya beranggapan bahwa menulis dalam rangka membantah Ahlul Bid’ah merupakan sesuatu yang afdhal, Syaikhul Islam ibn Taimiyyah Rahimahullah berkata:

قيل للإمام أحمد بن حتبل الرجل يصوم و يصلي و اعتكاف أحب إليك أو يتكلم في أهل البدع؟
فقال: إذا صام و صلى و اعتكف فإنما هو لنفسه و إذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين, هذا أفضل.

“Dikatakan kepada al-Imam Ahmd ibn Hanbal tentang seorang yang shaum, shalat dan i’tikaf, apakah hal tersebut lebih engkau cintai atas orang yang berbicara tentang Ahlul Bid’ah? Maka beliau menjawab: Apabila dia berpuasa, shalat, dan beri’tikaf maka sesungguhnya itu hanya untuk dirinya, dan apabila ia berbicara tentang Ahlul Bid’ah maka sungguh hal tersebut untuk kaum muslimin, dan inilah yang lebih utama”.

Lihatlah pemahaman yang begitu jeli dari al-Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ahmad ibn Hanbal, membicarakan Ahlul Bid’ah adalah sesuatu yang afdhal, tapi dengan syarat membicarakan mereka harus dengan ilmu dan bashirah, bukan dengan hawa nafsu, karena kebathilan tidak boleh dilawan dengan kebathilah, akan tetapi kebathilan mesti dilawan dengan kebenaran, dan kebenaran hanyalah dari Allah dan Rasul-Nya.

Dan saya ingin menjelaskan beberapa hal kepada Sony tentang Daulah Islamiyyah, karena saya melihat bahwa orang ini begitu jahil akan hakikat dari Daulah, dan semoga Risalah ini bisa sampai kepadanya hatta kepada para muqallidnya.

Yang Pertama:
Sungguh Sony beranggapan bahwa Khilafah yang dideklarasikan oleh Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnaniy dengan kepemimpinan Khalifah Abu Bakr al-Baghdadiy Hafizhahumallahu adalah batil, na’am, mungkin dia beranggapan bahwa batilnya Khilafah ini lantaran tidak ada syura dari seluruh kaum muslimin, jika begitu maka kami ingin bertanya:

- Apakah Khilafah ‘Ali tidak sah?

- Apakah Khilafah Mu’awiyah tidak sah?

- Apakah Khilafah Abul ‘Abbas as-Saffah tidak sah?

Na’am, mereka semua menjadi khalifah tanpa ada syura dari seluruh kaum muslimin, tapi hanya sebagiannya saja,  jika engkau beranggapan bahwa Ahlul Halli wal ‘Aqd yang memilih Khalifah al-Baghdadiy tidak ada, maka kami jawab bahwa bai’at itu tetap sah meski sebagian Ahlul Halli wal ‘Aqd tidak hadir, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlus Saqifah ketika membai’at Abu Bakr, dan mereka tidaklah bermusyawarah dengan orang yang tidak hadir di majlis, kemudian kami nukilkan sebagian ucapan para ‘ulama akan hal ini:

Berkata al-Imam Muhammad ibn ‘Umar al-Humairiy:

و لا يشترط في صحة البيعة إجماع الحاضرين منهم ببلدها
Tidak disyaratkan sahnya bai’at itu dengan kesepakatan seluruh orang yang hadir dari mereka (Ahlul Halli wal ‘Aqd) di negerinya. (Hadaiqul Anwar: 401).

Dan al-Imam an-Nawawiy juga menjelaskan hal ini bahwa bai’at tetap sah mesti tidak ada sebagian Ahlul Halli wal ‘Aqd, beliau berkata:

و لا يشترط اتفاق أهل الحل و العقد في سائر البلاد
Dan tidak disyaratkan adanya kesepakatan Ahlul Halli wal ‘Aqd diseluruh negeri-negeri. (Raudhatuth Thalibin: 43/10).

Cukuplah dua perkataan mereka ini yang saya nukilkan atasmu wahai Sony, maka jelaslah meskipun tidak ada Ahlul Halli wal ‘Aqd dari seluruh kaum muslimin di semua negara, maka Khilafah saat ini tetaplah sah, dan Khilafah ini tetap sah meski tidak ada Kibarul ‘Umala didalamnya, meski tidak ada Ikhwanul Murtaddin, “Salafiy”, Hizbut Tahrir, Sururiy dan firqah-firqah lainnya, fatadabbar.

Yang Kedua:
Sony mungkin juga beranggapan bahwa Daulah serampangan dalam takfir, karena Sony dalam status-statusnya selalu menuduh bahwa Daulah mengkafirkan kaum muslimin, na’am, kita akan perjelas buat Sony akan hal ini, wahai Sony, Daulah tidaklah mengkafirkan kaum muslimin dan tidak pernah hal ini mereka lakukan, yang ada justru engkaulah yang mengkafirkan kaum muslimin (Daulah) karena Daulah engkau tuduh sebagai intelijen Barat, bukankah ini konsekuensi dari menuduh orang lain intelijen Barat wahai Sony? 

Sungguh Daulah itu tidaklah mengkafirkan kaum muslimin akan tetapi yang mereka kafirkan adalah para thawaghit disetiap negara yang tidak menerapkan hukum Allah dan membuang hukum Allah dibelakang punggung-punggung mereka, apa dalilnya, diantaranya adalah firman Allah:

أفحكم الجاهلية يبغون, و من أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
Apakah hukum jahiliyyah yang mereka cari, dan siapakah yang lebih baik hukumnya bagi kaum yang yakin. (al-Maidah: 50).

Kemudian Ibn Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam yang mencakup seluruh kebaikan dan yang melarang dari segala keburukan, dan orang yang menyamakan hukum Allah kepada selainnya seperti ra’yu-ra’yu, hawa nafsu-hawa nafsu dan istilah-istilah, yang seseorang terapkan dengan tanpa bersandar kepada syariat Allah, sebagaimana yang diperbuat oleh Ahlul Jahiliyyah dan sebagaimana pula Tartar yang berhukum dengan Siyasah-Siyasah kerajaan yang diambil dari Raja mereka yaitu Jengis Khan, yang menerapkan hukum Elyasiq, dan dia adalah suatu hukum yang dikumpulkan dan dicari dari syariat yang berbeda-beda, seperti syariat Yahudi, Nashrani, Islam dan agama-agama lainnya, dan didalamnya banyak hukum-hukum yang ia ambil dari murni hawa nafsu dan ra’yunya, maka jadilah hukum tersebut untuk keturunannya sebagai syariat yang mesti diikuti, mereka mendahulukannya atas hukum di Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, barang siapa yang melakukan hal demikian, maka ia kafir, wajib memeranginya sampai dia kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada hukum selainnya entah itu sedikit ataupun banyak”. (Lihat kumpulan perkataan para ‘ulama akan hal ini di Kitab Nawaqidhul Iman hasil Disertasi Doktoral Syaikh Doktor ‘Abdul ‘Aziz al-‘Abdul Lathif yang mendapat predikat Cumlaude dari Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Su’ud).

Lihatlah Sony, dia kafir, wajib memeranginya sampai dia kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya wahai Sony, jadi wajib perang Sony, dan perang itu dengan senjata Sony bukan dengan mencoblos.

Dan masih ada beberapa hal yang ingin saya katakan kepada engkau wahai Sony, tapi untuk Risalah yang ini, saya cukupkan dengan hal ini dulu, insyaAllah akan saya lanjutkan dengan beberapa perkara yang mesti engkau wajib tahu akannya wahai Sony.

Walhamdulillah.


Abu Qatadah al-Barbahariy

Rabu, 15 Juni 2016

القابضون على الجمر





أبو مصعب الزرقاوي

الحمد لله معز الإسلام بنصره، ومذل الشرك بقهره، ومصرّف الأمور بأمره، ومستدرج الكافرين بمكره، الذي قدّر الأيام دولاً بعدله وجعل العاقبة للمتقين بفضله، والصلاة والسلام على من أعلى الله منار الإسلام بسيفه.
أما بعد...

فمما لا شك فيه أن الواقع هو الوعاء الذي تتجمع فيه الفتن والمحن المتعددة من شبهات وشهوات وابتلاءات على اختلاف صنوفها وأشكالها، في مواجهة أهل الطائفة المنصورة، لفتنتهم عن القيام بأمر الله، علماً وعملاً، دعوةً وجهاداً، ولا شك أن هذه الفتن والمحن لا تُدفع بغير الصبر واليقين، ومن الُمسلّم به أن للواقع الجاهلي القائم على غير قاعدة العبودية لله وحده ضغطاً شديداً على كاهل كل من يريد القيام بأمر الله، حيث المسافة الشاسعة والهوّة الواسعة بين أمر الله والواقع.

وهذا مع الحرب الضروس التي تُشن لكل من نصب نفسه لهذه المهمة العظيمة من قِبل أركان هذه الجاهلية والعناصر المتعددة المشاركة فيها بوجهٍ أو بآخر، وهم...
أولاً: طواغيت الأرض؛ أهل الحكم، وما في أيديهم من إمكانات وقدرات فائقة للفتنة رهباً ورغباً.

ثانياً: علماء السوء؛ الذين اشتروا الحياة الدنيا بالآخرة، ورضوا بالحض الخسيس، ولقيمات الذل والعار التي يلقيها إليهم الطاغوت من فتات موائده لإضلال العباد وفتنتهم عن أمر الله.

وهل أفسد الدين إلا الملوك وأحبار سوء ورهبانها
ثالثاً: أهل الأهواء وطوائف البدعة؛ على اختلاف بدعهم وتعدد أهوائهم، وذلك أن الاتباع الصادق يكشف زيف ما هم عليه، ويفضح ضلالهم وإضلالهم، ومن ثم يعلنونها حرباً على كل من أراد رد الناس إلى الأمر الأول، وهم في هذا السبيل لا يستحيون من التحالف مع الطواغيت وعلماء السوء، لتكوين جبهة واحدة مشتركة، لصد الناس وفتنتهم عن دينهم.

رابعاً: العوام؛ من الهمج الرعاع، أتباع كل ناعق، ووقود كل فتنة، ممن لم يستضيئوا بنور العلم، ولم يركنوا إلى ركن وثيق، فهمهم الأكبر إشباع غرائزهم وقضاء شهواتهم ونيل لذائذهم، لا يعرفون للحياة معنىً غير هذا، وبئست الحياة.

ومن الطبيعي أن يكون هؤلاء في خندق الطاغوت وحلفه، وأن يكونوا هم قطيعه الذي يقوده حيث شاء، وعَصاته التي يبطش بها بكل من أراد القيام بأمر الله والثبات عليه.
وهؤلاء أصناف شتى جمعهم حب الدنيا، وألّف بينهم التعلق بزينتها وشهواتها من جاه ومنصب ونساء ومطعم ومشرب وغيرها من حظوظها الفانية.

ورحم الله الإمام ابن بطة، حيث قال: (والناس في زماننا هذا أسراب كالطير، يتبع بعضهم بعضاً، لو ظهر لهم من يدعي النبوة - مع علمهم بأن رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتم الأنبياء - أو من يدّعي الربوبية؛ لوجد على ذلك أتباعاً وأشياعاً) انتهى كلامه.
وإذا كان كلامه رحمه الله عن زمانه، فهل يستغرب على أهل عصرنا - إلا من رحم الله - الوقوف في صف الباطل وأشياعه لمحاربة الحق وأتباعه.

ويساهم في هذا الواقع ويكرسه فتنة هي أشد على الكثيرين مما سبق، وهي ممن عرف الحق، أو قام بشيء منه، ولكنه عجز عن القيام به كاملاً، وعلى الوجه الذي يحبه الله ويرضاه، لسببٍ أو لآخر، فراح ينشر الشبهات والأراجيف، لتثبيط كل من أراد القيام بأمر الله على الوجه الذي يرضيه سبحانه، ليسلم له حاله، وتبقى له مكتسباته، وإنما كانت هذه الفتنة أشد وضررها أعظم، لما يمثله التلبيس والتدليس من خصوصية في إخفاء الحق وصد الناس عنه.

ورحم الله شيخ الإسلام ابن تيمية حيث قال: (ولا ينفق الباطل في الوجود إلا بشوب من الحق).

وبهذا الترتيب العجيب والتمازج الشديد، أضحى الأمر كما قال القائل:
ولتشهدن بكل أرض فتنةً فيها يباع الدين بيع سماحِ
يُفتى على ذهب المعز وسيفهِ وهوى النفوس وحقدها المذحاحِ
وهكذا يضغط الواقع على الكثيرين ممن يسعون للقيام بأمر الله، حيث يشعر هؤلاء أن كل من حولهم يخالفهم في ما هم عليه، بل وينابذهم على ذلك بكل ما يستطيع، فهم يسيرون في طريق موحشة، لا معين فيها ولا أنيس، والجميع حولهم يدعونهم ليسالموا أو يداهنوا أو يقفوا موقفاً وسطاً ويلتقوا مع الجاهلية في منتصف الطريق، بدعاوى وشعارات معلومة مشهورة.

وتزداد الفتنة وتعظم البلية، عند صبغ هذه الدعاوى بصبغةٍ شرعية، وتخريجها تخريجاً فقهياً، يعتمد الوسطية وينبذ ويحارب التشدد، فتنهال الاتهامات من مختلف المستويات على من يريد القيام بأمر الله متهمين إياه بالتطرف والغلو بل والإرهاب فضلاً عن الخارجية، ليجد العبد نفسه محاصرًا بدائرة محكمة من الاتهامات والإدانات، والتي لا ينقصها التدليل الشرعي، تصمُّ مسامعه صيحاتها، من كل حدب وصوب مناديةً عليه ببطلان ما هو عليه، ومروقه عن الطريق القويم، وحيدته عن الصراط المستقيم، وبعده عن الدين، ومخالفته للعالمين أجمعين، والهدف هو الضغط على العبد ليتجنب الانتساب إلى الحق في خاصة نفسه، فضلاً عن دعوة الآخرين إليه، ومن ثم التنازل والتراجع والنكول والنكوص عن أمر الله، ومسايرة الواقع القائم.

وقد جاء عن الإمام الفضيل بن عياض رحمه الله أنه قال: (كيف بك إذا بقيت إلى زمان شاهدت فيه أناساً لا يفرقون بين الحق والباطل، ولا بين المؤمن والكافر، ولا بين الأمين والخائن، ولا بين الجاهل والعالم، ولا يعرفون معروفًا وينكرون منكراً) انتهى كلامه.
قال الإمام ابن بطة – معلقاً على قول الفضيل -: (فإنا لله وإنا إليه راجعون، فإنا قد بلغنا ذلك وسمعناه وعلمنا أكثره وشاهدناه، ولو أن رجلاً ممن وهب الله له عقلاً صحيحاً، وبصراً نافذاً، فأمعن نظره وردد فكره، وتأمل أمر الإسلام وأهله، وسلك بأهله الطريق الأقصد والسبيل الأرشد، لتبين له أن الأكثر والأعم والأشهر من الناس قد نكصوا على أعقابهم، وارتدوا على أدبارهم، فحادوا عن المحجة وانقلبوا عن صحيح الحجة، ولقد أضحى كثير من الناس يستحسنون ما كانوا يستقبحون، ويستحلون ما كانوا يحرّمون، ويعرفون ما كانوا يُنكرون) انتهى كلامه.

والجملة الأخيرة من كلام ابن بطة، هي إشارة جليّة إلى فتنة ضغط الواقع، حيث ينضغط الكثيرون بضغط الواقع ومن خلال طوق الجاهلية المحكم والذي يحيط بالعبد من كل مكان إحاطة السوار بالمعصم، فيسعون وقد انكسرت قلوبهم وهُزمت نفوسهم وناحت كواهدهم، تحت مطارق هذا الضغط العنيف لنفي تلك الاتهامات عن أنفسهم، بل والتبرؤ منها ومن أصحابها وإظهار أنهم أصحاب منهج مغاير، يقوم على الاعتدال والواقعية والوسطية وينبذ التشدد والمثالية الخيالية، ويلتقي مع الواقع القائم، فلا يحاربه أو يسعى لاستبداله وإنما هو الإصلاح الرقيق والتغيير السلمي الذي ينطلق من هذا الواقع ويسايره، ويرجع إليه لا غير، وهم في سبيل ذلك يتكيفون في كل قالب، ويتطاوعون لكل ضاغط.

ولهذا المنهج الانهزامي التلفيقي سلسلة أليمة من المفردات والمظاهر المتعددات والتي يجمعها كلها كونها إفرازات ضغط الواقع الجاهلي، فمحاولة الالتقاء والانسجام مع هذا الواقع ومسايرته وعدم الظهور بمظهر الخارج عليه هو مصدر هذه السلسلة من المفردات ومرجعيتها، وإن كان ذلك على حساب تطويع المحكمات والقطعيات الثابتة بالكتاب والسنة والإجماع لهذا الواقع بل والتجاسر على ادعاء النسخ فيها.

ومن ذلك ما قرره بعضهم في تجاسر وجرأة على دين الله، يحار فيها العقل السليم، من أن أحكام أهل الذمة قد نُسخت كلياً وجزئياً، بما يعرف اليوم بأحكام المواطنة، ومهما قيل حول هذه السلسلة الأليمة من المفردات والمظاهر تبريراً أو تفسيراً، فليس لأصحابها من موقع في صفوف الطائفة المنصورة أبداً.

ومن أخطر نتائج الوقوع في هذه الفتنة؛ هو استمراء المنكر واعتياده، حتى قد يزول إنكاره بالكلية من القلب نتيجة هذه المسايرة المنهجية للواقع والتي تؤدي إلى استمراء المنكر والرضا به، بل قد يستقر في القلب استحسانه والإنكار على من أنكره، إذ كل ما انضغط العبد وتراجع للوراء خطوة بفعل ضغط الواقع، ازداد استعداده للانضغاط والتراجع خطوات، وما يزال به هذا النهج، حتى يصبح الانضغاط للواقع والتراجع والتنازل له خلقاً وديناً للعبد، وتضعف لديه إرادة الثبات بصورة مستمرة حتى تتلاشى تماماً، وتصير لديه القابلية التامة للتنازل والتراجع عن كل شيء وأي شيء بسهولة ويسر.

قال سيد رحمه الله: (الانحراف الطفيف في أول الطريق ينتهي إلى الانحراف الكامل في نهاية الطريق، وصاحب الدعوة الذي يقبل التسليم في جزءٍ منها ولو يسيراً، لا يملك أن يقف عند ما سلّم به أول مرة، لأن استعداده للتسليم يتزايد كلما رجع خطوة إلى الوراء) انتهى كلامه.

وقد تتعاظم فتنة ضغط الواقع، وتستفحل في نفوس البعض، حتى تكون سبباً للوقوع في الكفر والشرك الصراح، وقد أعلمنا الله سبحانه وتعالى أن هذه الفتنة كانت السبب الرئيس في وقوع الكثيرين في الكفر والشرك، رغم ما قام لديهم من العلم بل واليقين في صحة وصدق ما جاء به الأنبياء والرسل.

قال تعالى حكاية عن قوم نوح عليه السلام أنهم قالوا رداً عليه: {مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آَبَائِنَا الْأَوَّلِينَ}، وحكى الله تعالى عن قوم هود قولهم له: {قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آَبَاؤُنَا}، وقال تعالى عن قوم صالح: {قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آَبَاؤُنَا}.

ونظائر هذه الآيات في القرآن كثيرة معلومة وكلها مصرحة أن العبد قد يخرج من الحق إلى الباطل خضوعاً لضغط الواقع ومسايرة للناس ولما هم عليه، حيث للجموع والحشود الغفيرة والعادة المتأصلة والإرث المتداول المحفوظ سطوة قوية وهيبة في نفوس الكثيرين تدفعهم لمخالفة الحق وموافقة الباطل والإذعان له.
وكأن حذيفة صاحب السر وخبير الفتن رضي الله عنه كان يشير إلى فتنة ضغط الواقع تلك، حين قال: (أخوف ما أخاف على الناس اثنتان: أن يُؤثروا ما يرون على ما يعلمون، وأن يضلوا وهم لا يشعرون).

أما أهل الطائفة المنصورة...
فهم يدفعون ضغط الواقع ولا ينضغطون له أو به، إذ عملهم هو في الأساس والمقام الأول؛ إخضاع الواقع لأمر الله وأطرِه عليه أطراَ وهم يقومون بذلك بفضل الله أولاً ثم بيقينهم وصبرهم ثانياً، إذ فتنة ضغط الواقع هي فتنة الغربة بجوانبها المتعددة ومظاهرها المختلفة والتي يعيشها أهل الطائفة المنصورة في سعيهم نحو إقامة أمر الله.
وقد كان الحسن رحمه الله يقول: (صدق الله ورسوله، باليقين طلبت الجنة، وباليقين هُرب من النار، وباليقين أُدّيَت الفرائض، وباليقين صُبر على الحق، وفي معافاة الله خير كثير، قد والله رأيناهم يتقربون في العافية فإذا نزل البلاء تفارقوا) انتهى كلامه.
فأهل الطائفة المنصورة يصبرون على غربة الطريق ولا يوحشهم قلة السالكين، ولهم في ذلك الأسوة التامة بخير خلق الله وصفوتهم من الأنبياء والرسل عليهم السلام.
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: خرج علينا النبي صلى الله عليه وسلم يوماً فقال: (عرضت علي الأمم، فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد).

فقلة السائرين وغربة الطريق وتفرد السير من نهج الأنبياء والمرسلين في القيام بأمر الله.
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (بدأ الإسلام غريباً وسيعود كما بدأ فطوبى للغرباء).

فنص النبي صلى الله عليه وسلم على أن الغربة هي أصل هذا الأمر، وأساسه وإليه يرجع.

وقال الطرطوشي رحمه الله: (ومعنى هذا الحديث: أنه لمّا جاء الله بالإسلام، فكان الرجل إذا أسلم في قبيلته وحيّه غريباَ فيهم، مستخفياَ بإسلامه، قد جفاه الأهل والعشيرة، فهو بينهم ذليل حقير خائف، يتغصص بجرع الجفاء والأذى، ثم يعود غريباَ لكثرة الأهواء المضلة والمذاهب المختلفة، حتى يبقى أهل الحق غرباء في الناس، لقلتهم وخوفهم على أنفسهم) انتهى كلامه.

وقال القرطبي رحمه الله: (إن قرنه صلى الله عليه وسلم إنما فضل لأنهم كانوا غرباء في إيمانهم، لكثرة الكفار وصبرهم على أذاهم وتمسكهم بدينهم، وإن أواخر هذه الأمة إذا أقاموا الدين وتمسّكوا به وصبروا على طاعة ربهم، في حين ظهور الشر والفسق والهرَج والمعاصي والكبائر، كانوا عند ذلك أيضاً غرباء وزكت أعمالهم في ذلك الوقت، كما زكت أعمال أوائلهم، ومما يشهد لهذا قوله عليه الصلاة والسلام؛ "بدأ الإسلام غريباً وسيعود كما بدأ فطوبى للغرباء") انتهى كلامه.

وأعظم ما تكون غربة الإسلام وأهله القائمين به علماً وعملاً، دعوة وجهاداً، إذا ارتد الداخلون فيه عنه، وقد قال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ}.

فهولاء يقيمونه إذا ارتد عنه أولئك.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية: (قد تكون الغربة في بعض شرائعه، وقد يكون ذلك في بعض الأمكنة. ففي كثير من الأمكنة يخفي عليهم من شرائعه ما يصير به غريباً بينهم، لا يعرفه منهم إلا الواحد بعد الواحد، ومع هذا، فطوبي لمن تمسك بتلك الشريعة كما أمر الله ورسوله، فإن إظهاره، والأمر به، والإنكار على من خالفه هو بحسب القوة والأعوان) انتهى كلامه.

وقال شمس الحق آبادي رحمه الله: (فطوبى للغرباء من أمتي، يريد المنفردين عن أهل زمانهم).

وقد وصف الشارع هؤلاء الغرباء بجملة من الأوصاف، منها؛ أنهم نزاع الناس، أو النزاع من القبائل، والنزاع جمع نزيع ونازع، وهو الغريب الذي نزع عن أهله وعشيرته، والنزائع من الإبل الغراب.

قال الهروي رحمه الله: (أراد بذلك المهاجرين الذين هجروا أوطانهم إلى الله تعالى) انتهى كلامه.

وجاء في وصف الغرباء؛ أنهم الفرارون بدينهم، أو الذين يفرون بدينهم من الفتن، وأنهم أناسٌ صالحون قليل في أناس سوء كثير، ومن يعصيهم أكثر ممن يطيعهم، وأنهم الذين يصلحون إذا فسد الناس، وأنهم الذين يتمسكون بكتاب الله حين يترك ويعملون بالسنة حين تُطفى، وأنهم الذين يحييون ما أمات الناس من سنة النبي صلى الله عليه وسلم، وهذه الأوصاف المختلفة من النبي صلى الله عليه وسلم للغرباء، وإن كانت تظهر من جهة عظم الدور الذي يقوم به هؤلاء الغرباء في أزمنة الغربة بالقيام بأمر الله والثبات عليه، فإنها من جهة أخرى تظهر عِظم غربة هؤلاء وشدّتها، وعظم صبرهم عليها.

وقد نُقل عن سيد العُباد بعد الصحابة؛ أويس القرني، أنه قال: (إن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لم يدعا للمؤمن صديقاً، نأمرُهم بالمعروف فيشتمون أعراضنا، ويجدون في ذلك أعواناً من الفاسقين، حتى والله لقد رموني بالعظائم، وأيم الله لا أدع أن أقوم فيهم بحقه).

فمن هذا الباب يرجع الإسلام غريباً كما بدأ، لأن المؤالف فيه على وصفه الأوّل قليل، فصار المخالف هو الكثير، فاندرست رسوم السنة حتى مدّت البدع أعناقها فأشكل مرماها على الجمهور فظهر مِصداق الحديث الصحيح - كما بيّن ذلك الشاطبي رحمه الله -
فقد ذكر الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم أن غربة القائمين بأمر الله، الثابتين عليه، قد تشتد وتستحكم إلى أن يصبح حال هؤلاء الغرباء كحال القابض على الجمر.
فعن أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إن من ورائكم أيام الصبر، الصبر فيه مثل القبض على الجمر، للعامل فيهم مثل أجر خمسين رجلاً يعملون مثل عمله)، قالوا يا رسول الله: أجر خمسين منهم؟ فقال صلى الله عليه وسلم: (أجر خمسين منكم).

وفي تشبيهه صلى الله عليه وسلم المتمسك بدينه الصابر عليه، بالقابض على الجمر، دلالات هامة، منها...
أولاً: شدة غربة الدين وغربة أهله القائمين به.
ثانياً: شدة وعظم وهول ضغط الواقع على هؤلاء القائمين بأمر الله لصرفهم وفتنتهم عنه.
ثالثاً: عظيم صبر هؤلاء القائمين بأمر الله، وعظيم ثباتهم في هذه الغربة الحالكة.
رابعاً: أن اشتداد الغربة بالدين وأهله القائمين به إلى الدرجة التي تجعل العبد كالقابض على الجمر، ليس مبرراً للنكول والنكوص عن أمر الله والحيدة عنه، والتفريط فيه، وأنّه ليس هناك غير الاستمرار في القبض على الجمر.
ولما قيل للإمام أحمد أيّام الفتنة: يا أبا عبد الله أولا ترى الحق كيف ظهر عليه الباطل، قال: (كلا، إن ظهور الباطل على الحق أن تنتقل القلوب من الهدى إلى الضلال، وقلوبنا بعدُ لازمةٌ للحق).
خامساَ: أن ضغط الواقع الشديد من هذه الغربة المستحكمة، لا يدفع بغير الصبر، لا بالأخذ في بنيّات الطريق والعدول عن الجادّة، ولذلك كلّه نسب النبي صلى الله عليه وسلم هذه الأيام للصبر، وإنما نُسبت كذلك لأن العبد بدون الصبر، بل والصبر العظيم الذي يضارع صبر القابض على الجمر، هيهات هيهات أن يسلم له دينه، مع هذه المحن والأهوال التي تحيط به من كل جانب.
وقد جاء عن حذيفة رضي الله عنه أنه أخذ حجرين، فوضع أحدهما على الآخر، ثم قال لأصحابه: (هل ترون ما بين هذين الحجرين من النور؟)، قالوا: يا أبا عبد الله ما نرى بينهما من النور إلا قليلاً، قال: (والذي نفسي بيده، لتظهرن البدع حتى لا يُرى من الحق، إلا قدر ما بين هذين الحجرين من النور، والله لتفشون البدع حتى إذا ترك منها شيء قالوا؛ تركت السنة).

وقال سهل بن عبد الله: (عليكم بالأثر والسنة، فإني أخاف أنه سيأتي عن قريب زمان، إذا ذكر إنسان النبي صلى الله عليه وسلم والاقتداء به في جميع أحواله ذمّوه ونفروا عنه وتبرّأوا منه وأذلوه وأهانوه).

وما أعجب كلمة هشام بن حسان حين قال: (ليأتينّ على الناس زمان يشتبه فيه الحق والباطل، فإذا كان ذلك لم ينفع فيه دعاء إلا كدعاء الغرِق).
قال ابن القيم: (فإذا أراد المؤمن الذي قد رزقه الله بصيرةً في دينه وفقهاً في سنة رسوله وفهماً في كتابه وأراه مالناس فيه من الأهواء والبدع والضلالات، وتنكّبهم عن الصراط المستقيم الذي كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فإذا أراد أن يسلك هذا الصراط فليوطن نفسه على قدح الجهال وأهل البدع فيه وطعنهم عليه، وإزرائهم به، وتنفير الناس عنه، وتحذيرهم منه، كما كان سلفهم من الكفار يفعلون مع متبوعه وإمامه صلى الله عليه وسلم، فأما إن دعاهم إلى ذلك، وقدح في ما هم عليه، فهنالك تقوم قيامتهم، ويبغون له الغوائل، وينصبون له الحبائل، ويجلبون عيه بخيل كبيرهم ورجله) انتهى كلامه.

ومن ثم؛ فمن رغب أن يكون من أهل الطائفة المنصورة، وسط هذه الغربة الحالكة بحيث يكون - كما قال ابن القيم رحمه الله - رأساً في ذلك، يحتاج أن يكون شجاعاً مقداماً، حاكماً على وهمه، غير مقهور تحت سلطان تخيّله، زاهداً في كل ما سوى مطلوبه، عاشقاً لما توجه إليه، عارفاً بطريق الوصول إليه، والطرق القواطع عنه، مقدام الهمّة، ثابت الجأش، لا يثنيه عن مطلوبه لوم لائم، ولا عذل عاذل، كثير السكون، دائم الفكر، غير مائلٍ مع لذة المدح ولا ألم الذم، قائماً بما يحتاج إليه من أسباب معونته، لا تستفزّه المعارضات، شعاره الصبر وراحته التعب.

ومما يدفع به أهلُ الطائفة المنصورة فتنة ضغط الواقع أو فتنة الغربة؛ استعلاء الإيمان، حيث تمتلئ صدورهم ونفوسهم بالعزة التي جعلها الله لأهل دينه دون غيرهم، قال تعالى: {الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا}، وقال تعالى: {وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}، فالعزة كُلها لله وحده وليس لمن حادّ الله ورسوله ودينه فيها أدنى نصيب، وإن ملكوا أسباب السماء والأرض.

وقد قال تعالى في صفة أولياءه القائمين بدينه: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}.

فهم ينضحون بالعزة في وجه أعداء الدين وإن كانت لهم الغلَبة، وإن كان لهم السلطان المادي، إذ العزة بالإسلام لا بغيره، وفي مقابل وصف أهل الإيمان بالعزة، قال تعالى في حق المحادّين له ولرسوله: {إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ}.
وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الإسلام يعلو ولا يُعلى).

وللحديث قصة ذات دلالة هامّة؛ فعن عائذ بن عمرو أنه جاء يوم الفتح مع أبي سفيان بن حرب، ورسول الله صلى الله عليه وسلم حوله أصحابه، فقالوا هذا أبو سفيان وعائذ بن عمرو، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هذا عائذ بن عمرو وأبو سفيان، الإسلام أعز من ذلك، الإسلام يعلو ولا يُعلى)، فمجرّد تقديم اسم الكافر على اسم المسلم منافٍ لعلو الإسلام، بل مجرد العلو المكاني لا ينبغي أن يكون لغير أهل الإسلام.

وإن كانت الدولة والجولة لأعدائهم، ففي غزوة أحد وبعد أن دارت الدائرة على المسلمين، علت عالية من قريش الجبل، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (اللهم إنهم لا ينبغي لهم أن يعلونا)، فقاتل عمر بن الخطاب ورهطُ معه من المهاجرين حتى أهبطوهم عن الجبل.

ومن اللطائف ما جاء في تفسير قوله تعالى: {فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ}، قال ابن عباس رضي الله عنهما: (الغم الأول بسبب الهزيمة وحين قيل قتل محمد صلى اللّه عليه وسلم، والثاني حين علاهم المشركون فوق الجبل، وقال النبي صلى اللّه عليه وسلم؛ "اللهم ليس لهم أن يعلونا").

فمجرد علو الكفار المكاني على المسلمين، رغم كون الهزيمة من نصيبهم، والدائرة عليهم مما يصيبهم بالهم والغم، فالمسلم الحق تمتلئ نفسه وتفيض بكل معاني العلو المطلق، بما خصه الله تعالى وشرّفه به دون سائر خلقه، وإن كان في أبعد حالاته عن النصر والتمكين، وهذا ما ترسخ في نفوس الصحابة رضي الله عنهم.

فعن طارق بن شهاب، قال: خرج عمر بن الخطاب إلى الشام ومعنا أبو عبيدة بن الجراح، فأتوا على مخاضة وعمر على ناقة له، فنزل عنها، وخلع خفيه، فوضعهما على عاتقه، وأخذ بزمام ناقته، فخاض بها المخاضة، فقال أبو عبيدة: (يا أمير المؤمنين أنت تفعل هذا! تخلع خفيك، وتضعهما على عاتقك، وتأخذ بزمام ناقتك وتخوض بها المخاضة، ما يسرني أن أهل البلد استشرفوك)، فقال عمر رضي الله عنه: (أوّه، لو يقل ذا غيرك أبا عبيدة جعلته نكالاً لأمة محمد صلى الله عليه وسلم؛ إنّا كنّا أذلّ قوم فأعزنا الله بالإسلام، فمهما نطلب العزة بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله).

وقد خاطب الله تعالى المؤمنين، عند الحديث عما نزل بهم من البلاء، وما جرى لهم من إدالة عدوهم منهم، فقال تعالى: {وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ * وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ * أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ}.

فنهى الله عباده المؤمنين عن الوهن والحزن، رغم ما نزل بهم من البلاء والمحنة، ورغم أن الدائرة كانت عليهم وذلك لكونهم هم أهل العلو والعزة ما كانوا متمسكين بدينهم وإيمانهم.

فأساس العلو العزة هذا الدين الذي أكرمهم الله به، ولا عبرة بعد ذلك بضعفهم المادي، وكون الصولة والجولة لأعدائهم عليهم.

قال السعدي رحمه الله: (يقول تعالى مشجعا لعباده المؤمنين ومقوياً لعزائمهم ومنهضاً لهممهم؛ {وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا}، أي: ولا تهنوا وتضعفوا في أبدانكم ولا تحزنوا في قلوبكم عندما أصابتكم المصيبة وابتليتم بهذه البلوى فإن الحزن في القلوب والوهن على الأبدان زيادة مصيبة عليكم وأعون لعدوكم عليكم بل شجعوا قلوبكم وصبروها وادفعوا عنها الحزن وتصلبوا على قتال عدوكم وقد ذكر تعالى أنه لا يليق بهم الوهن والحزن وهم الأعلون في الإيمان ورجاء نصر الله وثوابه فالمؤمن المبتغي ما وعده الله من الثواب الدنيوي والأخروي لا ينبغي له ذلك، ولهذا قال تعالى: {وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}) انتهى كلامه.

فمن مقتضيات ولوازم كون أهل الإيمان هم الأعلون؛ عدم الوهن والحزن والانكسار في طلب الأعداء ومواجهتهم وإن اشتد ضغط الواقع على المؤمنين بكون الصولة والجولة والدولة لأعدائهم، فكيف بالتنازل والتراجع استجابةً لهذا الضغط.

وذلك أن ترّسخ هذه الحقيقة في قلب ونفس العبد المؤمن يورثه ثباتاً عظيماً في مواجهة ضغط الواقع - وإن اشتد وعظم - حيث يدرك المؤمن أنه الأعز والأعلى، من كل ما حوله، رغم ضعفه المادي وتجرده من أسباب القوة المادية، كما يدرك أن ما يلوح للواقع الجاهلي من مظاهر العزة والعلو، والتي لها سطوة وهيبة على كثير من النفوس، إنما هي مظاهر كاذبة خادعة، وإنما هذا العلو والعزة وهم وسراب لا حقيقة له.
وختامًا نقول...

إن من يعيش الواقع من خلال كتاب أو مطالعة لوسائل إعلام أو غيرها، فلا يمكن له أن يحكم على الواقع الذي يعيشه المجاهدون بطريقةٍ صحيحة، فلا بد أن يعيش بينهم ويعرف همومهم وأفراحهم وأحزانهم.

وهذا هو شأن النبي صلى اللّه عليه وسلم، فقد كان الأعرابي يدخل إلى المجلس فيسأل؛ أيكم محمد؟ لأنه صلى اللّه عليه وسلم كانت حياته بين أصحابه.

ولمّا فزع أهل المدينة ليلة، انطلقوا قِبل الصوت، فتلقاهم النبي صلى اللّه عليه وسلم، وقد سبقهم إلى الصوت وهو على فرسٍ لأبي طلحة، ما عليه سرج، وفي عنقه السيف، وهو يقول: (يا أيها الناس لن تُراعوا).

فالذي يعايش الواقع عن بُعد، ولا يعيش تفاصيله، ولا يواجه نوازله وابتلاءاته، فلا شك أنه سيبقى بمنأىً عن سهام أهل الكفر وانتقاداتهم، حسن السيرة نقي الصورة، وأما المجاهدون فإنهم يخوضون مع أعدائهم غمار الحروب، فطريقهم واضح المعالم والأهداف، وهم في سيرهم إلى ربهم يوالون فيه ويعادون فيه، ويحبون فيه ويُبغضون فيه وحاديهم؛ اللهم لك العُتبى حتى ترضى.

وهم في سيرهم غير مبرئين عن الأخطاء والمعايب، فإذا أصابتهم قروحٌ وابتلاءات أو هزائم وجراحات، سلقهم القاعدون بألسنةٍ حداد، ونظّروا سبب هزيمتهم بما يرونه على طريقتهم، فليتهم كانوا في أوائل الصفوف، وخاضوا معهم غمار الحروب، وعاشوا الجهاد بحلوه ومرّه، وما يتعرض له المجاهدون من ضغوطات تنوء بحملها الجبال، إذًا فلو نصحوا ونظّروا لقبل منهم.

اللهم أبرم لهذه الأمة أمر رشد، يعز فيه أهل طاعتك، ويذل فيه أهل معصيتك، ويؤمر فيه بالمعروف، وينهى فيه عن المنكر، اللهم ارفع الضيم والذل عن هذه الأمة، وارفع راية الجهاد في كل واد وباد.

{وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ}
والحمد لله رب العالمين

لله درك يا شيخ الاسلام يا ابن تيميه :
(( ليس من شرط تبليغ الرسالة أن يصل إلى كل مكلف في العالم بل الشرط أن يتمكن المكلفون من وصول ذلك إليهم ثم إذا فرطوا فلم يسعوا في وصوله إليهم مع قيام فاعله بما يجب عليه كان التفريط منهم لا منه ))
ام زكريا

أبو مصعب الزرقاوي

AL-QAIDAH MENAPAKTILASI IKHWANUL MUSLIMIN: DARI BAWA PELEDAK HINGGA KE MENENTENG SPANDUK


Standard

Al-Jabhah Al-I’lamiyyah li Nushrah Ad-Daulah Al-Islamiyyah
(Front Media Pembela Daulah Islam)
Mu`assasah Al-Battar
(Al-Battar Media)
Penulis: Abul-Baraa Ash-Sha’iqi
Alih Bahasa: Abana Ghaida
Mempersembahkan :

Al-Qaidah Menapaktilasi Ikhwanul Muslimin:
Dari Bawa Peledak Hingga ke Menenteng Spanduk
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada nabi dan rasul mulia, serta kepada para keluarga dan sahabat semuanya.
Amma ba’du:
Saya tidak meragukan, banyak orang yang membaca judul tulisanku ini akan mengira bahwa saya terlalu berlebihan, atau mencoba melakukan intimidasi, dan melakukan kesembronoan tanpa pikir panjang. Bahkan prasangka buruk telah naik sampai tingkatan bahwa saya diklasifikasikan ke dalam barisan orang-orang yang gemar membuat huru-hara dan pemantik kerusuhan! Padahal persoalannya sama sekali tidak seperti itu. Namun sesungguhnya, saya pun tidak akan mencela siapa saja yang berprasangka buruk seperti itu, disebabkan hanya sekadar membaca judulnya saja tanpa menelaah seisi tulisan di dalam artikel. Oleh sebab itu, saya mengimbau semuanya agar membaca tulisan saya sampai selesai secara seksama dan teliti, dengan nalar yang bijak, dan dengan hati nurani yang bersih dari pengaruh purbasangka.
Saya meyakini secara pasti bahwa orang yang membaca dengan seksama pada akhirnya akan sampai pada suatu keyakinan atau setidaknya penilaian yang tidak keluar dari inti tulisan di dalam artikel saya, dan ini menjadi salah satu indikator dari keyakinan diri. Para pembaca, mohon sejenak saja berikan nalar kalian untuk membaca tulisanku, karena dengan izin Allah tidak akan sampai melenyapkan kebaikan.
Aku mendatangi kalian berbekal derasnya kenyataan
Dan sengitnya keadaan melalui keniscayaan pengetahuan


Ketahuilah bahwa sejarah tidak akan pernah berdusta selamanya. Sunnatullah (ketentuan Allah) berlaku langgeng dan sekali-kali tidak akan ada perubahan dan pergantian. Alur segenap hari takkan berubah pada permulaan dan penghujungnya, kendati detil dan bilangannya berbeda-beda. Di antara salah satu ketentuan dan fenomena sejarah yang terjadi: Siapa saja yang mengayunkan satu langkah di jalur perdamaian dengan musuh-musuhnya, maka kedua kakinya akan tergelincir, hingga akhirnya menyimpang dari kondisi awalnya secara total. Sekali seseorang terjatuh ke dalam kubangan kenistaan, maka selanjutnya dia akan terjatuh berulang-ulang kali. Sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa yang memandang remeh pandangan pertama, niscaya dia terjerumus ke dalam zina.” Sesungguhnya nasib orang yang mendera agamanya dengan kehinaan, meski hanya setitik saja, maka kondisinya sangat terang-benderang tak ubahnya terang matahari di siang bolong.
Oleh karena itu, melalui Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkali-kali memperingatkan Nabi MuhammadShallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umatnya tentang bahaya mengikuti langkah setan. Allah menegaskan betapa dahsyatnya bahaya condong kepada musuh-musuhnya, walau hanya memandang sekilas saja. Allah mengancam orang yang condong dan ‘menjilat’ musuh dengan kerugian dan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

وَإِن كَادُواْ لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذاً لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً * وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً * إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيراً

“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.“ (Al-Israa`: 73-75)

Allah juga menegaskan,
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسّكُمْ النَّار
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (Huud: 113)

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِماً أَوْ كَفُوراً
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (Al-Insaan: 24)
Dan masih banyak lagi ayat lainnya yang memperingatkan kita untuk tidak meniti jalan tersebut dan mewanti-wanti kita akan dampak buruk yang ditimbulkannya bagi agama dan keduniaan seseorang.
Saya mendapatkan pernyataan berharga dari Sayyid Quthb, yang layak untuk ditulis dengan tinta emas karena sangat bernilai. Kalau saja tidak khawatir untuk bertele-tele dalam menjelaskan, niscaya akan saya tulis semuanya. Namun saya akan paparkan sebagian saja.
Sayyid Quthb mengatakan, “Ia merupakan sebuah kenyataan besar yang mesti disadari dan dijalani para pionir jalan (kebenaran) ini. Berbagai upaya telah dikerahkan kaum musyrikin bersama Rasulullah dalam rangka melakukan bargaining (negosiasi) dalam dakwah. Namun Allah menjauhkan beliau dari berbagai upaya yang sejatinya senantiasa dilakukan para penguasa terhadap para da’i, yaitu membujuk mereka agar mau sejenak melupakan penegakan dan soliditas dakwah, mau mengambil solusi alternatif yang ditawarkan mereka, dengan kompensasi sejumlah harta benda.

Dari sekian banyak da’i, ada yang terpikat sehingga menyimpang dari dakwahnya karena memandang bahwa persoalan tersebut adalah hal remeh. Para penguasa tidak pernah menuntut mereka untuk meninggalkan dakwah mereka secara total. Mereka hanya meminta revisi (perubahan) ringan sehingga kedua belah pihak memiliki titik temu di persimpangan jalan. Kemudian setan menggiring sang pengemban dakwah ke dalam celah tersebut, sehingga dia memiliki anggapan bahwa kebaikan dakwah muncul ketika para penguasa mau menerimanya, walau harus melalui tanazul (merendahkan diri/berkompromi) dari salah satu pihak.

Namun nyatanya, penyimpangan kecil yang terjadi di awal langkah ini berujung para penyimpangan hebat di akhir jalan. Si pengemban dakwah yang di awal mau berkompromi dalam hal remeh dan mengabaikan satu aspek kecil, kemudian ternyata dia tidak mempunyai sikap dalam kompromi untuk pertama kalinya. Kesiapannya untuk menerima kompromi akan semakin bertambah seiring dengan sikapnya yang semakin jauh melangkah ke belakang. Padahal persoalannya berkaitan dengan persoalan keimanan terhadap dakwah secara keseluruhan. Orang yang mau berkompromi dalam satu persoalan betapapun kecilnya dan diam mengabaikan suatu hal betapapun remehnya, maka mustahil baginya mau mengimani dakwahnya dengan sebenar-benar keimanan.


Ini berarti, suatu hal sempurna telah kehilangan bagian-bagiannya, ketika salah satu bagiannya hilang. Tak ubahnya kendaraan yang kehilangan bagian-bagiannya, ketika ia kehilangan salah satu elemennya. Dan para penguasa melakukan istidraj (pendekatan berangsung-angsur) kepada para pengemban dakwah. Sekali saja menerima satu bagian, maka para da’i telah kehilangan wibawa dan kekuatannya. Para penguasa memahami betul bahwa negosiasi yang dilakukan secara terus-menerus dan peningkatan harga penawaran akan berujung pada penyerahan ‘transaksi’ secara keseluruhan.”
Barangsiapa bersikap merendahkan maka kenistaan mudah menghampirinya
Luka yang menimpa si mayyit takkan pernah berubah menjadi derita



Hal ini pun tepatnya menimpa jamaah Ikhwanul Muslimin (IM) yang menciderai konsistensinya yang sebelumnya berdiri sangat kokoh. Yaitu tatkala IM menerima prinsip tanazul (kompromi) untuk mengimbangi tekanan realita di satu sisi, dan untuk ‘menyenangkan’ kekuatan-kekuatan penguasa dengan berbagai bentuknya di sisi lain. Hal demikian mendorong mereka selangkah demi selangkah menyimpang dari prinsip-prinsip awal yang mereka dirikan dan mereka perjuangkan dengan nyawa, darah, dan penderitaan selama bertahun-tahun di balik jeruji besi, sampai akhirnya berujung pada fenomena yang saat ini kita saksikan bersama, yaitu kenistaan dan penggelandangan yang selanjutnya tidak mendatangkan manfaat apapun! Hingga akhirnya logo resmi yang mereka usung selama hampir seabad dan tertera padanya kalimat “wa a’idduu”(dan siapkanlah) bersanding dengan dua bilah pedang menyilang, kini hanya tinggal gambar di atas kertas!

Bahkan mereka kini telah menukar esensinya. IM seakan ‘mengirim’ segenap jiwa dan para pendukungnya yang terperdaya ke penjara-penjara dan kematian di jalanan-jalanan, baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri, di bawah slogan-slogan omong kosong semisal: “Dada kami telanjang, namun penuh keimanan” atau “Perdamaian kami lebih kuat dari peluru mereka”, sambil berbaris di bawah panji as-silmiyyah (perdamaian) terkutuk! Secara keagamaan, tiada kemuliaan yang mereka raih. Dan secara keduniaan, tiada kekuasaan yang mereka gapai. Kehinaan dan ketiadaan al-bashirah (wawasan/pengetahuan/kecerdasa) yang mendera mereka menjadi contoh tiada bandingannya. Dapat dikatakan, tidak ada kelompok yang lebih pandir daripada IM. Ketergelinciran yang mereka terima tidak terjadi secara sekaligus, bahkan berlangsung pasca rangkaian panjang sikap tanazul (kompromi) dan bermesraan (mudahanah).

Tak ubahnya seekor singa yang memburu lembu gemuk, namun akhirnya mangsanya tidak dapat dinikmati. Ternyata ada banyak lagi kafilah para penjilat dan orang-orang frustasi yang membuntuti mereka menempuh jalan-jalan pengkhianatan. Hamas adalah salah satu contoh buruk nan destruktif. Kelompok yang selama ini diandalkan kaum muslimin dan sanggup membuat para petinggi dan rakyat Negara Yahudi bertekuk lutut dan merasakan kematian. Namun hari ini, Hamas berubah menjadi ‘raksasa kertas’, bahkan senjata yang tadinya diarahkan ke dada musuh-musuhnya, kini mengarah ke leher-leher umat Islam, menghalang-halangi orang-orang beriman dari jalan Allah dan menghendakinya menjadi bengkok. Semua ini tiada lain adalah akibat dari melangkah di jalan untuk menyenangkan kekuatan-kekuatan yang mengintimidasi serta merasa nyaman dengan konsep win-win solution (solusi menguntungkan dua belah pihak) dan metode berdialog dengan musuh! Lalu di tengah jalan, dengan semua ini, mereka sejatinya tidak akan pernah bisa untuk mendapatkan simpati musuh dan tidak akan mampu menggalang pujian dari orang-orang tulus. Kita berlindung kepada Allah dari tindakan pengkhianatan.
Menapaktilasi IM, dengan langkah cepat, hari ini kelompok Al-Qaidah pimpinan Sang Hakimul Ummah DR. Aiman Azh-Zhawahiri membuat kemajuan pesat dalam kehinaan. Di langit kini telah muncul tanda-tanda keruntuhan Al-Qaidah akibat perangkap yang sebelumnya telah menjerat IM. Saat ini kita mulai melihat berbagai tanda penyimpangan berbahaya dalam manhaj Al-Qaidah, kelompok yang sebelumnya begitu mengguncang seluruh dunia!
Dengan melihat sekilas prinsip-prinsip yang digoreskan Azh-Zhawahiri dalam amal jihad, seseorang dapat dengan cepat menyimpulkan bahwa semua prinsip dan implementasinya di lapangan realita ini, seiring dengan waktu yang berjalan, mengubah kebijakan Al-Qaidah dari masa “membawa hulu ledak di medan-medan tempur dan konflik” menuju masa “membawa spanduk dan poster di arena demonstrasi”! Hal ini sungguh nampak jelas, kerangka berbahaya yang diciptakan Azh-Zhawahiri bagi amaliyah-amaliyah jihad adalah permulaan untuk melucuti senjata secara menyeluruh seiring berjalannya waktu. Kerangka dan panduan yang meniscayakan untuk mengorbankan keputusan demi keputusan demi menambal seluruh celah yang ada. Sejatinya, keputusan-keputusan tersebut tiada lain merupakan jurang dalam bagi ketergelinciran dan kejatuhan di berbagai puncak alienasi (pengasingan) total dari operasi jihad bersenjata. Pernyataan demikian bukan hal yang berlebihan atau sekadang menakut-nakuti.
Hari ini kita menyaksikan tanda-tanda penyimpangan dan keruntuhan mengerikan dari proyek Al-Qaidah dan kerusakan manhajnya. Gambaran-gambaran paling gamblang dari penyimpangan ini terdapat dalam pernyataan-pernyataan penuh kecaman dan celaan yang dikeluarkan cabang-cabang Al-Qaidah dalam mengomentari tindak-tanduk Daulah Islam, yang sejatinya adalah tindakan-tindakan mulia bersumber dari inti perkara-perkara agama. Padahal tindakan-tindakan tersebut merupakan bagian dari prinsip-prinsip Al-Qaidah yang ditetapkan pada masa silam, namun hari ini Al-Qaidah dengan segenap jenjangnya jutru berlepas diri dari semua prinsip tersebut!
Dimulai dengan komentar kejinya terhadap deklarasi Khilafah Islamiyah, ketika mereka menyatakan, “Sesungguhnya deklarasi imarah-imarah dan negara-negara Islam di zaman sekarang yang dikuasai kekuatan-kekuatan hebat dan tunduk pada hegemoni Amerika Serikat (AS) adalah salah satu bentuk tindakan sia-sia!” Perhatikan bagaimana Al-Qaidah pimpinan Azh-Zhawahiri memandang perbuatan berdasarkan syariat Islam sebagai salah satu bentuk kesia-siaan. Orang berakal tidak akan ragu lagi bahwa pernyataan seperti ini tidak akan pernah terucapkan melainkan dari mulut orang yang kalah, bermulut besar, bimbang, dan tidak memercayai janji Allah. Dia tidak layak untuk menyemat titel perjuangan. Sepantasnya bagi dirinya bergulat dengan kotak-kotak suara dan ruangan-ruangan pemilihan umum!
Kenistaan dan dekadensi metodologi yang dialami Al-Qaidah tidak hanya sampai di situ saja, bahkan saat ini telah mencapai batasan yang sulit untuk diterima. Tidak ada bukti paling baik selain sikap Al-Qaidah Yaman yang merilis pernyataan berlepas diri dan mengecam perang penuh berkah yang dilancarkan Daulah Islam ke ‘masjid-masjid’ dhirar milik Syiah Rafidhah. Padahal kuil-kuil tersebut menjadi pusat-pusat komando dan markas-markas bagi operasi-operasi militer yang menargetkan kelompok Ahlussunnah di Yaman. Pertempuran tersebut juga telah memanen banyak pemimpin kekafiran dari golongan Syiah Hautsi, juga menewaskan utusan khusus Hizbullata Lebanon dalam serangan khusus yang melumpuhkan orang-orang Rafidhah, dalam satu serangan mematikan. Argumentasi Al-Qaidah Yaman dalam sikap berlepas diri mereka lebih keji dari sikap berlepas diri itu sendiri. Mereka beralasan bahwa tindakan berperang seperti itu menyelisihi prinsip-prnsip Azh-Zhawahiri yang lebih mereka utamakan dari syariat Allah.
Pun demikian dengan kecaman mereka terhadap penggorakan tentara murtad Yaman yang dilakukan tentara Khilafah, dengan alasan bahwa penggorokan dapat merusak citra amal jihad –menurut klaim mereka. Padahal mereka mengetahui secara pasti bahwa sunnah penyembelihan telah dicontohkan Nabi MuhammadShallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dulu berteriak lantang kepada kaum kafir Quraisy, “Demi Allah wahai bangsa Quraisy sekalian, sungguh aku benar-benar datang untuk menyembelih kalian.”Sembari berulang kali mengisyaratkan tangan ke leher beliau, sebagai bentukkinayah (majaz metonimia) untuk memotong leher mereka.

Begitu pula dengan tindakan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu yang menyembelih Abu Jahal, dan Nabi Muhammad tidak mengecam tindakan tersebut. Bahkan perbuatan tersebut merupakan manhaj yang diamalkan pada masa petinggi Al-Qaidah Irak “Pemimpin Para Pemenggal” Syaikh Abu Mush’ab Az-ZarqawiRahimahullahu. Pada masa silam, mereka begitu menyanjung tindakan-tindakan yang dilakoni Syaikh Az-Zarqawi, namun hari ini mereka mencelanya sebagai bentuk penghormatan terhadap pandangan Azh-Zhawahiri. Di antara salah satu bentuk tanazul mengerikan dan penyimpangan mengejutkan dalam manhaj Al-Qaidah terwujud dalam peristiwa akhir-akhir ini berupa keburukan-keburukan yang dilakukan cabang Al-Qaidah di Syam (baca: Jabhah Nushrah). Kelompok Al-Qaidah Syam menapaktilasi langkah-langkah lebar dalam perubahan manhaj yang dulu diletakkan oleh Al-Qaiah. Bahkan kondisinya sampai pada tingkatan berafiliasi dan bekerjasa dengan orang-orang musyrik untuk memerangi kaum muslimin, dan sampai pada kondisi yang sangat buruk dan luar biasa keji. Hal inilah yang kami wanti-wanti dan kami khawatirkan.

Kapankah terjadi hal yang aku harapkan dan nantikan
Namun hal yang aku khawatirkan malah menjadi kenyataan

Banyak pengamat merasa keheranan atas diamnya sejumlah tokoh lama Al-Qaidah yang kita kenal kokoh memegang teguh manhaj dan sangat konsisten menjaga prinsip-prinsip, atas pergeseran besar yang menimpa jamaah mereka. Para pengamat juga merasa heran atas sikap sepihak yang diambil para komandan terhadap Sang Hakimul Ummah, dan sikap provokasi mereka kepadanya, sehingga mendorong Sang Hakimul Ummah untuk melanggar berbagai prinsip, mengubah jalan, dan menganulir manhaj mereka. Sebuah keheranan yang sangat wajar. Tidak ada seorang pun yang dapat mengira betapa mudahnya seorang Nashir Al-Wuhaisyi, Qasim Ar-Raymi, Ar-Rubaisy, Abdul Wadud, dan lain sebagainya, bergeser dari prinsip-prinsip mereka. Sedangkan orang yang mengetahui sejarah menyadari bahwa inilah kesudahan orang yang berlebihan mencintai para ikon hidup, melebihi kecintaan kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang sebelumnya telah ditetapkan para pendiri jamaahnya.
Sampai pada sikap bahwa penyimpangan prinsip dianggap sedikit lebih mudah daripada harus mendengarkan kata-kata celaan atau bisikan kritik terhadap ikon yang sudah mereka tahbiskan sebagai sandaran hati dan obyek penghormatan. Sikap kultus tersebut membutakan mereka untuk bisa melihat penyimpangan menakutkan yang terjadi pada manhaj jamaah mereka, akibat efek silau dari sang ikon. Dan barangkali sebagian orang mempunyai kebencian terhadap sejumlah keputusan yang di dalamnya tercium aroma perubahan.
Namun sejarah sepertinya harus dipaksa keras untuk mengupayakan menjustifikasi keputusan-keputusan tersebut melalui argumen-argumen konyol demi menambal kekeliruan sang pemimpin. Sedangkan dia melakukan hal tersebut untuk membebaskan diri dari pengaruh penyesalan yang menghantuinya akibat kemungkaran-kemungkaran yang terjadi. Lambat laun, mereka akan menikmati perubahan tersebut, hingga mereka tampil sebagai propagandis paling keras dan militan. Mereka tidak akan pernah menyadari kesalahan besar yang terjadi, kecuali jika mereka mau melepaskan diri dari belenggu kultus atau jika terjadi malapetakan yang menyadarkan mereka dari kesalahan mereka, sehingga mereka dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa hebatnya kesesatan dan penyimpangan yang terjadi pada jamaah mereka.
Akan tetapi pada segenap hati tersebut terdapat tutupan
Sehingga semuanya tak dapat memenuhi panggilan

Sekitar satu dekade silam, saya pernah utarakan perkataan dalam suatu perdebatan bersama salah seorang petinggi terkemuka jamaah Al-Qaidah pimpinan Syaikh Usamah bin Ladin yang tewas di Negeri Dua Kota Suci (Bilad Al-Haramain) –semoga Allah menerima mereka— dalam sebuah percakapan kami mengenai interaksi negara Qatar dengan kafilah mujahidin yang baru kembali dari Afghanistan pada masa invasi AS. Saya katakan kepada sang komandan, “Sesungguhnya interaksi luar biasa Qatar dengan mujahidin yang baru pulang; sampai-sampai Qatar tidak melakukan investigasi dan resistensi kepada mereka, padahal saluran televisi Aljazeera tiada hentinya menyiarkan data dan menayangkan amaliyah-amaliyah Al-Qaidah, merupakan persoalan yang layak untuk diperhatikan. Sebuah persoalan yang mengindikasikan niatan pemerintah Qatar untuk melakukan penetrasi ke dalam barisan Al-Qaidah, dengan penetrasi lunak demi meraih simpati jamaah Al-Qaidah. Kemudian, Qatar akan melakukan deradikalisasi dari dalam dan merestrukturisasi dengan menciptakan kerangka baru. Sehingga kemudian membuat Al-Qaidah nampak seperti singa yang tak bertaring dan tak bercakar, namun masih tetap menampilkan citra seekor singa. Namun sejatinya, singa tersebut kehilangan wibawa dan kekuatan yang seharusnya dimiliki seekor singa. Sehingga menjadi raga tanpa jiwa, dan baik pihak yang kuat ataupun yang lemah tidak takut lagi akan kekuatannya.”
Hari ini kita menyaksikan sedikit-banyak apa yang telah saya katakan kepada rekan saya –semoga Allah menerima amalannya— telah terbukti. Kendati saat itu rekan saya menyatakan bahwa hal itu mustahil terjadi, dan menganggapnya sebagai sebuah intimidasi dan jauh dari kenyataan! Kenyataannya, pernyataan saya tadi bukanlah isapan jempol, namun berdasarkan telaah sejarah dan analisa perkembangan peristiwa harian. Saya meyakini bahwa secara teoritis, para petinggi Al-Qaidah memahami betul ketentuan demikian. Bahkan mereka lebih memahami dan mengetahuinya dari kita semua. Hanya saja, mereka tidak bisa membayangkannya, karena mereka telah terjerumus ke dalam malapetaka tersebut. Kaki mereka terjerembab ke dalam lumpur hingga tenggelam sedalam lutut, bahkan sampai setinggi kerongkongan. Ya Rabbi!
Seperti burung elang mungil yang bulunya berguguran, setiap burung lain terbang ia gulana
Masa ketika di Riyadh sangatlah senang, ia bisa bebas berburu makanan sekehendaknya
Hingga akhirnya sakitnya jadi bencana, kedua sayapnya telanjang terbuka

Di antara tipu saya Iblis yang paling dahsyat mendera adalah ketika mereka memandang diri mereka sebagai kaum wasath (moderat/pertengahan) antara kelompok ghuluw (ekstrim) dan Murjiah (longgar/menggampangkan). Mereka mendeskripsikan bahwa kaum ghuluw adalah orang-oang yang kokoh berpegang teguh kepada sunnah dan mengamalkan Al-Quran dengan kekuatan (baca: tentara Khilafah). Dan mereka menggambarkan bahwa Murjiah adalah para ulama penguasa dan siapa saja yang bersama mereka. Sedangkan orang-orang menyimpang dari kalangan IM mereka gambarkan sebagai “saudara se-manhaj dan teman seperjalanan”. Inilah yang membuat mereka buta tak dapat melihat kondisi mereka sebenarnya; terjerumus ke dalam penyimpangan dan keruntuhan. Sementara itu, nalar buntu mereka menginformasikan bahwa yang namanya penyimpangan terjadi secara sekaligus dalam waktu sehari semalam. Inilah sumber penderitaan dan kawasan bencana.

Mereka berjalan dalam iring-iringan pawai orang-orang payah
Mereka buta tak dapat melihat jalan penuh hidayah

Agar pembaca bisa mengamini kebenaran pernyataan di dalam tulisan ini, perhatikanlah dengan seksama perbuatan dan perkataan Azh-Zhawahiri, maka takkan ragu lagi akan ditemukan banyak kejanggalan. Nalar Azh-Zhawahiri telah didominasi ‘celupan’ Ikhwani. Di dalam darahnya mengalir kecintaan kepada bangsa (nasionalisme), sehingga dia lebih mengutamakannya ketimbang keridhaan Allah Jalla wa ‘Ala –baik disadarinya maupun tidak. Dialah menjadikan Mursi yang sudah tak diragukan lagi kemurtadannya sebagai sebagai salah seorang saudara se-manhajnya. Bahkan Azh-Zhawahiri mendoakannya seolah-olah seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Dia mendoakan Mursi agar senantiasa teguh dan lapang dada!!!

Kemudian nampak jelas sekali –diprediksi tentang masa depan Al-Qaidah dan transformasinya menjadi sebuah partai politik atau mungkin saat ini ia sedang dalam metamorfosa mendirikan partai politik, sebagaimana dilakukan IM, Hamas, dan Hizbullata. Kita menyaksikan dan mendengar prediksi tersebut dari bagaimana Azh-Zhawahiri mengonsumsi setiap peristiwa dan realita yang ada, lalu betapa berlebihannya dia menyambut revolusi-revolusi di Dunia Arab yang dinamakan The Arab Spring (Musim Semi Dunia Arab/Kebangkitan Dunia Arab). Sehingga dia terkagum-kagum terhadap ‘panggilan-panggilan jalanan’ (demonstrasi) sampai pada tingkatan berharap untuk bisa tampil di barisan terdepan di alun-alun di setiap revolusi damai melawan kelaliman dan tirani penguasa.
Sebagaimana Azh-Zhawahiri sangat membanggakan dirinya yang menjadi salah satu partisipan pertama dalam berbagai demonstrasi di Alun-alun Tahrir Kairo pada 1971. Demikian pula dia melancarkan seruan tercelanya untuk memobilisasi massa dalam kampanye demonstrasi rakyat demi mengamandemen salah satu materi undang-undang (UU) negara Mesir! Begitu juga, Azh-Zhawahiri memperlihatkan kepada kita bagaimana metode yang layak untuk dijadikan bentuk balas dendam kepada Gereja Kristen Koptik Mesir yang telah melakukan tindakan sewenang-wenang kepada saudari kita Camellia Shehata (mualaf) dan saudari-saudarinya. Yaitu berupaya terlebih dulu menjatuhkan rezim, lalu kemudian kita membentuk peradilan-peradilan untuk mengadili para kriminal atas tindakan-tindakan keji mereka! Dan kita pun tidak tahu apakah Azh-Zhawahiri dapat melakukannya, sementara dia menganggap kaum Kristen Koptik Mesir sebagai “rekan sebangsa”?!! Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan Sang Hakimul-Ummah DR. Aiman Azh-Zhawahiri.
Demi Allah, wahai para pencari kebenaran, bagaimana semua ini –dan saya keberatan untuk menuliskan seluruh penyimpangan yang terjadi, khawatir bertele-tele dalam menjelaskan—tidak dinamakan sebagai suatu ketergelinciran dan penyimpangan; dari puncak tertinggi jihad dan istisyhad (mencari kesyahidan) terjun bebas ke jurang perdamaian dan defeatisme (paham kalah sebelum berjuang)?!
Demi Allah Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sejatinya persoalan ini nampak lebih buruk dari yang dapat dibayangkan dan dijelaskan. Tidak ada orang yang bisa berpura-pura buta tak melihat akibat dari tindakan memalukan, selain orang yang kurang akal, minim kecerdasan (bashirah), dan ternoda fitrahnya (watak/jiwa)!
Menurut analisa saya, penyimpangan yang mendera Al-Qaidah akan mencapai klimaksnya sebagaimana terjadi pada IM, seandainya tidak memiliki proyek yang konsisten, jelas, dan integral dalam segenap pilarnya. Sebuah proyek yang meniscayakan keberanian menarik permadani empuk dari orang-orang lemah tadi. Dan keberadaan Daulah Islam –sebagai pemilik proyek ideal—tergolong sebagai katup aman dan niscaya takkan menggelincirkan mayoritas umat yang masih berpegang teguh kepada Al-Qaidah ke kubangan kenistaan. Hal inilah yang membuat saya meyakini bahwa Al-Qaidah senantiasa berjalan beriringan demi kebaikan Daulah Islam sebagaimana adanya.
Kelak akan banyak pendukung dan segelintir petinggi Al-Qaidah yang akan tersadar dari mabuk kultus, setelah didera pecut penyimpangan-penyimpangan buruk yang nanti akan mereka sadari selepas terjadinya kontradiksi-kontradiksi antara idealisme keyakinan mereka dengan proses usaha yang mereka lakoni di dunia nyata. Mereka kelak akan benar-benar menyadari kekeliruan yang dilakukan para qiyadah (petinggi) mereka. Sehingga kemudian mereka akan lompat keluar dari bahtera Al-Qaidah yang menurut banyak data realita telah tenggelam di samudera kesia-siaan, labirin membingungkan, dan kepunahan. Itulah salah satu tanda dari segenap tanda sunnatullah. Allah berfirman,“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” (Ar-Ra’d: 17) Dalam waktu dekat, nampaknya seluruh dunia akan menyaksikan –dengan izin Allah— hal itu. ‘Tongkat’ Daulah Islamiyah akan mengalahkan seluruh magis neo-Al-Qaidah pimpinan Azh-Zhawahiri dan siapa saja yang loyalitas kepadanya dari kalangan orang-orang kalah.

Tatkala Musa datang dan tongkat pun dilempar
Maka lenyaplah sihir dan tukang sihir

Penulis
Abul-Baraa Ash-Sha’iqi
Rabu, 17 Rajab 1436 H